PUPUK KIMIA DIKURANGI 30%, HASIL PADI JUSTRU NAIK 20%

Bpk Udin, Desa Buniasih, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan

Kisah Petani Padi dari Kuningan yang Membuktikan Sendiri Perubahan di Sawahnya

Di kalangan petani, mengurangi pupuk kimia sering dianggap langkah yang berisiko. Kekhawatiran akan turunnya hasil panen membuat banyak petani tetap bertahan pada pola pemupukan lama. Namun pengalaman berbeda justru datang dari Bapak Udin, petani anggota Kelompok Tani Tani Mukti I di Desa Buniasih, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan.

Aplikasi Pupuk DI.Grow Hijau, dosis 3 ml/liter air, pada umur 12 HSS, tanggal 13 Maret 2025.

Awalnya, ia pun merasa ragu ketika mengikuti demplot penggunaan DI.Grow pada tanaman padi varietas Pajajaran di lahan seluas sekitar 1.400 m². Dalam percobaan tersebut, pupuk kimia yang biasa digunakan justru dikurangi hingga 30%, lalu dikombinasikan dengan aplikasi DI.Grow.

“ Terus terang saya sempat khawatir. Biasanya petani berpikir kalau pupuk dikurangi, hasil pasti ikut turun. Tapi setelah dijalani, ternyata yang terjadi justru sebaliknya,”  tutur Udin.

Padi Pajajaran usia 29 HST, terdapat 28 anakan/Rumpun, tanggal 16 April 2025

Sejak fase awal pertumbuhan, perbedaan mulai terlihat. Tanaman padi yang mendapatkan perlakuan DI.Grow tampak lebih hijau dan segar. Batangnya lebih kokoh, dan jumlah anakan yang muncul pun lebih banyak dibandingkan dengan cara pemupukan biasa.

Memasuki fase pembentukan malai, perbedaan semakin jelas. Malai terlihat lebih panjang dan lebih padat berisi. Bahkan menjelang panen, kondisi tanaman masih tampak sehat dengan daun yang tetap hijau. Batangnya juga lebih kuat sehingga tidak mudah rebah, serta terlihat lebih tahan terhadap serangan penyakit, terutama hawar daun bakteri.

Padi usia 66 HST, Setelah aplikasi DI.Grow (15,25,35,45,55,66 HST) + aplikasi kimia (7, 25 dan 60 HST), pada tanggal 23 Mei 2025

Hasil akhirnya menjadi bukti paling nyata. Jumlah anakan produktif meningkat dari 18 menjadi 21 batang per rumpun. Jumlah bulir per malai melonjak dari 65 menjadi 133 bulir. Sementara itu, hasil panen naik dari 6,25 ton menjadi 7,52 ton per hektar, atau meningkat sekitar 20 persen, meskipun pupuk kimia yang digunakan lebih sedikit.

Hitung Jumlah analan per Rumpun

Bagi Udin, angka tersebut bukan sekadar data di atas kertas. Kenaikan hasil sekitar 1,27 ton per hektar memberikan tambahan pendapatan yang cukup signifikan, mencapai sekitar Rp8 juta per hektar.

“Yang paling terasa tentu keuntungannya. Pupuk lebih hemat, tapi hasilnya malah lebih banyak. Tanaman juga terlihat lebih sehat,” ujarnya.

Hitung Jumlah bulir per malai

Keberhasilan demplot ini turut disaksikan berbagai pihak, mulai dari jajaran UPTD Kecamatan Lebakwangi–Maleber, unsur Muspika, kelompok tani setempat, hingga tim DI.Grow. Panen demplot padi Pajajaran dilakukan pada usia 89 hari setelah tanam, tepatnya pada 15 Juni 2025, menjadi momen pembuktian nyata dari hasil percobaan tersebut.

Acara Panen dihadiri Kepala UPTD Kec. Lebakwangi/Maleber dan jajarannya, Muspika Kecamatan, Poktan dan tim DI.Grow
Panen Demplot DI.Grow, usia padi Pajajaran 89 HST, pada tanggal 15 Juni 2025

Bagi Bpk Udin, pengalaman ini memberikan pelajaran penting: meningkatkan hasil panen tidak selalu harus dengan menambah pupuk kimia. Dengan pendekatan yang tepat dan teknologi yang mendukung, potensi tanaman justru bisa dimaksimalkan dengan cara yang lebih efisien.

“Menurut saya, DI.Grow ini bagus untuk petani. Pupuk kimia bisa dikurangi, tanaman lebih sehat, dan hasil panen lebih baik. Mudah-mudahan cara ini bisa dipakai lebih luas supaya usaha tani petani semakin untung dan berkelanjutan,” harapnya.

Dari sawah sederhana di Desa Buniasih, sebuah pesan penting bagi dunia pertanian kembali ditegaskan:  ketika teknologi bertemu dengan pengalaman petani, produktivitas dan keberlanjutan bisa berjalan bersama.