Bukan Sekadar Pupuk, DI.Grow Bangunkan Kekuatan Alami Jagung

Pak Zainudin, petani jagung dari Desa Banyu Urip, Banyuasin – Sumatera Selatan, merasakan langsung bahwa masalah jagung bukan cuma soal harga, tapi saat tanaman tidak tumbuh maksimal. Pupuk sudah rutin, biaya sudah keluar, namun tanaman tetap lemah, pertumbuhan tidak seragam, dan tongkol kurang terisi.

Berangkat dari kondisi itu, beliau mencoba DI.Grow sebagai pendamping pemupukan—bukan untuk mengganti pupuk, melainkan membantu tanaman memaksimalkan nutrisi yang sudah diberikan. DI.Grow diaplikasikan bertahap: DI.Grow Hijau pada umur 15, 25, dan 35 HST, serta DI.Grow Merah pada umur 45 HST, dengan dosis 3–7 ml per liter air. Respon tanaman mulai terlihat sejak fase vegetatif. Daun lebih hijau dan stabil, pertumbuhan lebih seragam, dan populasi tanaman produktif meningkat.

Memasuki fase generatif, tongkol terisi lebih penuh, baris biji lebih rapi, dan bobot tongkol meningkat. Hasil panen pun naik dari ±7 ton/ha menjadi ±8 ton/ha. Di saat yang sama, penggunaan pupuk kimia bisa ditekan dari 10 karung menjadi 8 karung per hektar.

Bagi Pak Zainudin, DI.Grow bukan sekadar tambahan input, tetapi solusi untuk membuat tanaman jagung lebih kuat dari dalam, lebih efisien, dan lebih siap menghasilkan panen.