Efektivitas Pupuk DI.Grow Dalam Meningkatkan Produktivitas Padi Varietas Pajajaran

Oleh : Asep Rahmat/Senior Agronomis DI.Grow

Kegiatan Demplot Aplikasi Pupuk DI.Grow pada Tanaman Padi Varietas Pajajaran dilaksanakan di Desa Buniasih, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, pada lahan sawah seluas 100 Bata (1.400 m2) milik Bpk Udin, anggota Kelompok Tani Tani Mukti I. Demplot ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan produktivitas padi dan efisiensi pemupukan melalui penerapan teknologi biostimulan alami berbasis ekstrak rumput laut dari produk DI.Grow.

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menguji efektivitas pupuk DI.Grow dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta mendorong petani mengadopsi sistem pemupukan modern yang ramah lingkungan dan efisien.

Varietas padi yang digunakan adalah Pajajaran, varietas unggul berumur genjah (90–95 HST) dengan potensi hasil mencapai 8–9 ton/ha. Dalam demplot ini, digunakan dua perlakuan yaitu:

  • Perlakuan Demplot (DI.Grow + pupuk kimia dikurangi 30%), dan
  • Perlakuan Pembanding (pemupukan kimia penuh konvensional).

Teknologi yang diuji berupa kombinasi pupuk organik cair DI.Grow Hijau dan Merah sebagai biostimulan alami yang mengandung hormon tumbuh (auksin, sitokinin, giberelin), asam amino, enzim, serta unsur mikro. Teknologi ini diterapkan pada berbagai fase pertumbuhan padi—mulai dari perendaman benih, persemaian, fase vegetatif, hingga pengisian bulir.

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa penggunaan DI.Grow memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan vegetatif, jumlah anakan produktif, jumlah bulir per malai, serta hasil panen.

  • Jumlah anakan produktif meningkat 16,7%, dari 18 menjadi 21 anakan per rumpun.
  • Jumlah bulir per malai meningkat 104,6%, dari 65 menjadi 133 bulir.
  • Produktivitas meningkat dari 6,25 ton/ha menjadi 7,52 ton/ha, atau naik 20,32%, meskipun dosis pupuk kimia dikurangi 30%.

Selain peningkatan hasil, tanaman di petak DI.Grow menunjukkan ketahanan lebih baik terhadap stres cuaca dan penyakit hawar daun bakteri (BLB). Daun tetap hijau hingga menjelang panen, dan batang tidak mudah rebah. Dari sisi ekonomi, peningkatan hasil sebesar 1,27 ton/ha memberikan tambahan pendapatan petani sekitar Rp 8.255.000 per hektar (dengan asumsi harga gabah Rp 6.500/kg). Secara sosial, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran dan semangat kolaborasi petani dalam menerapkan inovasi teknologi yang efisien dan ramah lingkungan.